Hal Yang (Harus) Berhenti Dilakukan Dalam Hidup: 1
Menghakimi orang tua saya.
Selama ini saya jarang ngomongin soal abah, ayah saya. Abah itu bukan contoh ayah ideal sesuai standar yang berlaku di masyarakat. In short, abah itu bukan orang yang mau berjuang buat keluarganya. Saya selama masa sekolah, selalu nanya ke diri saya sendiri. Kenapa ayah saya kaya gini ya, kenapa ga kaya temen-temen yang lain yang ayahnya standar aja gitu. Entah mulai dari kapan, perasaan benci dan marah terhadap ayah saya hilang. Tapi saya juga ga ngerasa apapun terhadap ayah saya. Sepertinya saya merasa kalau sosok ayah itu udah hilang.
Yang saya punya selama ini adalah ibu saya. Walaupun selalu sama ibu, saat masih sekolah dulu saya merasa tidak terlalu dekat dengan ibu saya. Tapi saya tau, itu karena sedari kecil, keluarga saya tidak terbiasa memperlihatkan kasih sayang. Dari kecil bonding antara ibu dengan saya memang tidak kuat. Yang teringat dari ibu saat saya SMP adalah marah-marahnya. Hampir setiap hari saya dimarahi. Terbalik saat SMA, saya yang sering marah-marah dengan ibu. Ibu banyak mengalah, namun saya sadari lebih seperti rasa pasrah dan putus asa. Emosi negatif yang selama ini dipendam, saya tunjukkan dengan ibu saya.
Waktu berlalu, saya mulai bisa berpikir jernih, berpikir ke belakang mengenai apa saja yang sudah terjadi. Dari situ saya sadar, betapa destruktifnya rasa amarah yang selalu saya pendam selama ini. Orang yang menyimpan amarah, dendam, dan benci cenderung sulit berpikir dengan jernih.
Saya berhenti menghakimi orang tua saya. Saya meminta maaf dan memaafkan orang tua saya. Dengan meminta dan memberi maaf, diri kita melepaskan energi negatif yang selama ini terpendam. Dengan saling memaafkan, kita bisa melepaskan beban di dalam diri kita.
Saya maafkan ayah saya, yang ga pernah berusaha menghubungi saya selama bertahu-tahun.
Saya maafkan ayah saya, yang ga pernah nanyain kabar saya dan adik-adik saya.
Saya maafkan ayah saya, yang seharusnya jadi panutan tapi malah lari dari tanggung jawabnya.
Memaafkan bukan berarti membenarkan perlakuan orang terhadap kita. Saya ga akan pernah menganggap apa yang sudah ayah saya lakuin adalah hal yang bisa dibenarkan. Tapi saya coba untuk melihat akar masalah dari sudut pandang lain.
Dan saya mencoba mengerti dan berhenti menyalahkan ibu saya atas semua yang terjadi.
Mengerti diri ibu saya, yang saya sadari dipenuhi kebingungan, yang kerap bimbang dalam tiap langkah yang dia ambil. Ibu saya sudah melakukan yang terbaik yang dia bisa lakukan dengan apa yang dia ketahui. Mungkin ibu belum bisa memberikan apa yang saya mau, tapi dia telah memberikan segalanya yang dia punya. Saya berhenti komplain kepada ibu saat saya sadar bahwa ibu saya mengenal saya seumur hidupnya, sementara saya mengenal ibu saya bahkan tidak sampai setengah usianya.
Pada akhirnya saya bisa menemukan tempat di dalam hati dan diri saya untuk mengerti dan berdamai dengan orangtua saya.
Komentar
Posting Komentar